
Hari itu langit tampak cerah tak ada mendung hitam yang menggantung di langit Jakarta. Namun apa yang terjadi, gempa dengan kekuatan 7.3 skala Richter telah menggoyang pulau Jawa khususnya provinsi Jawa Barat dan sekitarnya.
Saat gempa terjadi saya dan teman saya sedang sedang ada di halaman kantor meriksa ban mobil kantor yang kempes, setelah selesai periksa dan hendak masuk kedalam ruangan tiba orang-orang yang ada didalam kantor pada berhamburan keluar. Gempa....gempa....gempa.... begitulah teriak mereka. Sontan akupun gak jadi masuk dan ikut gabung dengan para karyawan yang lain di halaman depan kantor. Aku pegangan salah satu mobil yang diparkir disitu dan akupun merasakan guncangan yang cukup membuat khawatir. Langsung saja kuraih Ponsel dari dalam kantong celanaku dan ku telpon keluargaku yang ada di rumah, aku tanyakan keadaan di rumah tentang kejadian ini dan keluargakupun merasakan hal yang sama. Istri dan anakku yang sedang bermain dan bercanda bersama ikut kaget dan langsung kuperintahkan untuk keluar dari rumah, maklum rumahku berlantai 2 yang membuat kusemakin khawatir dengan kondisi bangunan yang sebagian dinding ada dijumpai retakan.
Gempa berlangsung sekitar 2 menit, setelah gempa usai dan kita pastikan keadaan aman. Aku dan karyawan yang lain kembali memasuki kantor dan menonton laporan kejadian barusan di layar televisi. Betapa hebatnya gempa yang berpusat di laut selatan Pulau Jawa tersebut, dengan kecanggihan teknologi kita bisa tahu dampak dari gempa yang telah membuat sebagian bangunan kantor dan fasilitas umum serta rumah tinggal retak bahkan ada yang sampai ambruk dan menelan korban jiwa.
Sungguh ini peringatan yang luar biasa dari Yang Maha Kuasa dibulan suci ini. Kita tidak boleh sombong dan terlena mengejar dunia, harta benda yang kita kumpul-kumpulkan dengan sekejap bisa berbalik menjadi bencana bila kita tidak mensyukurinya.
